NCC 2026: Cybersecurity Bukan Sekadar Melindungi Data, Tetapi Juga Uang, Kepercayaan, dan Masa Depan Ekonomi Digital Indonesia
Digital Transformation Captain | 30 Oktober 2026
Dua hari yang luar biasa dalam National Cybersecurity Connect (NCC) 2026, yang berlangsung pada 28–29 Oktober 2026 di Hotel Bidakara, Jakarta.
Sudah lima tahun APTIKNAS ikut mengusung kegiatan National Cybersecurity Connect sebagai ruang kolaborasi pemerintah, industri, akademisi, dan komunitas untuk memperkuat keamanan siber Indonesia.
Tahun ini, dengan tema “Securing Trust and Resilience in the Age of AI-Driven Digital Transformation”, saya melihat satu pesan yang semakin kuat:
Semakin cepat pertumbuhan ekonomi digital, semakin besar kebutuhan kita untuk membangun kepercayaan dan ketahanan siber.
Pada hari kedua NCC 2026, saya mendapat kesempatan memoderasi panel bertajuk:
“Cybersecurity for the Next Phase of Digital Growth.”
Bersama empat narasumber dari regulator, industri perbankan, dan penyedia teknologi keamanan siber, kami membahas tantangan yang semakin nyata dalam perjalanan transformasi digital Indonesia.
1. BSSN: Pertumbuhan Digital Membutuhkan Ketahanan Siber Nasional
Bersama Ishak Farid dari Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN), kami membahas risiko siber yang berpotensi memberikan dampak besar terhadap fase pertumbuhan digital Indonesia berikutnya, termasuk perkembangan AI dan perlindungan sektor strategis.
Ada pertanyaan penting yang saya angkat:
Kemampuan minimum apa yang harus dimiliki organisasi agar inovasi digital tetap dapat berjalan cepat, tetapi tetap aman?
Indonesia membutuhkan penguatan strategi keamanan siber nasional, kemampuan respons insiden, kolaborasi antarindustri, serta kesiapan sumber daya manusia.
Pembahasan RUU Keamanan dan Ketahanan Siber juga menjadi relevan sebagai bagian dari upaya memperkuat kerangka perlindungan ekosistem digital nasional.
Namun, regulasi saja tidak cukup.
Kita membutuhkan kesiapan implementasi, terutama dari pelaku industri TIK yang membangun dan mengoperasikan infrastruktur digital di berbagai daerah.
2. Bank Mega: Digital Banking Harus Mengutamakan Digital Trust
Bersama Wahyu Prasetyo, Head of IT & Cyber Risk Management Bank Mega, kami mendiskusikan bagaimana industri perbankan menghadapi meningkatnya risiko siber di tengah ekspansi layanan digital.
Saat ini, layanan perbankan tidak lagi berdiri sendiri.
Bank terhubung dengan fintech, payment gateway, penyedia layanan cloud, mitra teknologi, dan berbagai platform digital lainnya.
Semakin banyak integrasi, semakin luas pula potensi risiko yang harus dikelola.
Pendekatan Protect – Detect – Respond menjadi bagian penting dalam membangun ketahanan layanan digital.
Namun, tantangan sebenarnya adalah bagaimana melindungi nasabah tanpa membuat pengalaman perbankan menjadi semakin rumit.
Nasabah menginginkan transaksi yang cepat, mudah, dan nyaman.
Di sisi lain, bank harus mampu mencegah pengambilalihan akun, penipuan pembayaran, pencurian data, dan serangan social engineering yang semakin canggih dengan bantuan AI.
Digital banking cannot grow sustainably without digital trust.
3. SearchInform: Ancaman Tidak Selalu Datang dari Luar Organisasi
Diskusi bersama Sergey Ozhegov, CEO SearchInform, membawa perhatian kita pada persoalan data protection, Data Loss Prevention (DLP), dan insider threats.
Selama ini, banyak organisasi lebih berfokus pada serangan dari luar, seperti ransomware, malware, dan peretasan jaringan.
Padahal, risiko juga dapat berasal dari dalam organisasi.
Kebocoran data, penyalahgunaan hak akses, tindakan karyawan yang disengaja maupun tidak disengaja, serta internal fraud dapat menimbulkan kerugian yang signifikan.
Karena itu, perlindungan data tidak cukup hanya dengan memasang teknologi keamanan.
Organisasi juga membutuhkan kebijakan, pengawasan akses, visibilitas aktivitas berisiko, dan budaya keamanan informasi.
Data Loss Prevention is not only about protecting information. It is also about protecting business continuity and customer trust.
4. Ruijie Cybrey: Keamanan Jaringan Harus Mengikuti Perkembangan Infrastruktur Digital
Bersama Haytham Shen, Director of Security Product Marketing Ruijie Cybrey, kami membahas tantangan pengamanan jaringan yang semakin terdistribusi.
Hari ini, pengguna, perangkat, aplikasi, dan data tidak lagi berada dalam satu lokasi.
Organisasi mengoperasikan jaringan kantor pusat, cabang, cloud, remote workers, hingga perangkat IoT.
Bagaimana kita dapat melindungi semuanya tanpa meningkatkan kompleksitas operasional?
Pendekatan seperti TriMesh Security, yang menggabungkan sensor keamanan, intelligent firewall, dan cloud AI security, menjadi salah satu contoh bagaimana teknologi dapat membantu meningkatkan visibilitas dan mempercepat respons terhadap ancaman.
Pelajaran pentingnya:
Security must become more intelligent, integrated, and operationally manageable.
Teknologi keamanan yang baik seharusnya membantu bisnis berkembang, bukan menjadi penghambat inovasi.
5. Dari Data Loss Prevention Menuju Money Loss Prevention
Ada satu pemikiran yang saya tekankan ketika menutup panel.
Selama ini, kita sering berbicara mengenai Data Loss Prevention.
Tetapi bagi dunia bisnis, khususnya perbankan dan layanan digital, kita juga harus semakin serius membahas:
Money Loss Prevention.
Serangan siber tidak hanya menyebabkan kebocoran data.
Serangan juga dapat mengakibatkan kehilangan uang, penipuan transaksi, terhentinya operasional, kerusakan reputasi, dan hilangnya kepercayaan pelanggan.
Karena itu, keberhasilan cybersecurity tidak cukup hanya diukur dari jumlah ancaman yang diblokir.
Kita juga perlu melihat seberapa besar kemampuan organisasi dalam mencegah kerugian finansial dan mempertahankan keberlangsungan bisnis.
Cybersecurity is not just an IT investment. It is a business protection investment.
6. Dari Cybersecurity Awareness Menuju Cyber Resilience
Dari seluruh rangkaian NCC 2026, saya melihat beberapa perubahan besar yang harus diperhatikan industri TIK Indonesia.
Pertama, AI mengubah cara organisasi melakukan pertahanan siber, tetapi sekaligus menciptakan risiko baru.
Kedua, cybersecurity harus bergeser dari pendekatan reaktif menjadi proaktif melalui continuous monitoring, threat intelligence, dan security validation.
Ketiga, perlindungan infrastruktur kritikal harus menjadi prioritas nasional.
Keempat, kolaborasi regulator, pengguna teknologi, dan penyedia solusi menjadi semakin penting.
Kelima, cybersecurity harus menjadi bagian dari strategi pertumbuhan bisnis, bukan hanya tanggung jawab departemen IT.
7. Apa Langkah Berikutnya bagi APTIKNAS?
Sebagai Sekretaris Jenderal APTIKNAS, saya melihat momentum NCC 2026 perlu diterjemahkan menjadi langkah nyata bagi industri TIK nasional.
Melalui semangat APTIKNAS Smart Nation, ada tiga inisiatif yang menurut saya layak kita dorong bersama.
Indonesia Cybersecurity Industry Readiness Survey 2027
Mengukur kesiapan pelaku industri TIK nasional, termasuk system integrator, distributor, penyedia layanan keamanan, dan perusahaan teknologi di daerah.
APTIKNAS Cyber Resilience Framework
Mengembangkan pendekatan praktis agar anggota APTIKNAS dapat membantu organisasi meningkatkan keamanan dan ketahanan siber secara terukur.
APTIKNAS Smart Nation Cybersecurity Initiative
Membangun kolaborasi antara pemerintah, industri, akademisi, dan komunitas untuk memperkuat kemampuan cybersecurity nasional.
Saya percaya Indonesia tidak cukup hanya menjadi pasar bagi teknologi keamanan siber global.
Kita juga harus membangun kemampuan, talenta, layanan, dan ekosistem industri cybersecurity yang semakin mandiri dan kompetitif.
Penutup: Securing Digital Growth, Protecting Digital Trust
Terima kasih kepada seluruh narasumber panel, BSSN, Bank Mega, SearchInform, Ruijie Cybrey, seluruh peserta, penyelenggara, dan mitra NCC 2026.
Diskusi ini kembali mengingatkan kita bahwa pertumbuhan digital tidak akan berkelanjutan tanpa keamanan dan kepercayaan.
No Digital Growth Without Digital Trust.
No Digital Trust Without Cybersecurity.
No Sustainable Digital Economy Without Cyber Resilience.
Dan satu pesan yang terus ingin saya dorong:
Digital Sovereignty Must Move from Conference Discussions to Measurable Industry Actions.
Mari kita lanjutkan perjalanan membangun Indonesia yang semakin digital, aman, tangguh, dan mandiri.
Saya ingin mengajak rekan-rekan industri berdiskusi:
Apakah organisasi kita saat ini sudah benar-benar membangun Cyber Resilience, atau masih sekadar membeli produk Cybersecurity?
Salam Transformasi Digital!
Fanky Christian Digital Transformation Captain Sekretaris Jenderal APTIKNAS
#DigitalTransformationCaptain #365DaysOfDigitalTransformation #NCC2026 #NationalCybersecurityConnect #APTIKNAS #Cybersecurity #CyberResilience #DigitalTrust #DataLossPrevention #MoneyLossPrevention #DigitalSovereignty #SmartNation #IndonesiaDigital
No comments